Bob Sadino

Posted by editor | personal,profile | Wednesday 26 March 2008 9:34 am

Sosok pengusaha dengan pakaian ciri khas celana pendek jins dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit ini adalah salah satu sosok entrepreneur  sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha melainkan hasil kerja kerasnya.

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Om Bob begitu sapaanya, anak bungsu dari lima bersaudara ini, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari hasil kerjanya di Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi disewakan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, ketika disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tapi Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks supermarket ini juga mantan sopir taksi dan karyawan Unilever berkat kerja kerasnya kemudian berubah menjadi pengusaha yang disegani di negeri ini.


Kisah hidup  yang getir lainnya pun pernah memayungi keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya.


Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Ia memerhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Lalu mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telur. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya yang  tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan bahkan babu orang asing sekalipun. Namun mereka bercermin pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan dan kerja keras,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.

Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurutnya, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri karenanya ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
 
Selain itu ia juga  pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Kemudian ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta.

Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Haji yang berpenampilan nyentrik serta penggemar berat musik klasik dan jazz ini.

Bob tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam. (RAS/ti)

 


Resources Resources Resources Resources

3 Comments »

  1. Comment by suprapto — November 18, 2008 @ 12:11 pm

    OM BOB ADALAH SOSOK SEORANG SUFIS YANG HIDUP DITENGAH2 KEMODERENAN DUNIA TP BELIAU TETAP ISTIQOMAH, KARENA ISTIQOMAH LEBIH HEBAT/MULIA DARI 1000 KAROMAH WALIULAH……..SUBHANALLAH

  2. Comment by danny anjar kuncoro — December 2, 2008 @ 7:28 pm

    sosok seorang pengusaha yg walaupun su kses tp tidak lupa akan awal drmana
    DIA MENGAWALI semua usahanya itu

  3. Comment by endriyatmo — December 30, 2008 @ 1:08 pm

    om bob,kalimat yg anda sampaikan ke farhan ‘going with the flow ‘begitu menyentil diri saya lg terpuruk 2 th ini.perlu sikap nrimo dan hati yag tabah,mhn doamu agar kumampu bangkit,amin.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment