Info Lowongan | Agenda | Artikel Dunia Kerja | Beasiswa | Peluang Usaha
Menjaring Laba Tinggi dengan Nasi Uduk
Menjelang petang, Jalan Raya RP Soeroso persisnya di bawah lintasan rel kereta yang terletak antara Stasiun Gondangdia-Cikini agak tersendat. Banyak mobil yang parkir di sisi kiri maupun kanan jalan tersebut. Wajah-wajah orang terkenal yang mungkin hanya sempat Anda lihat di layar kaca, mulai dari politisi Senayan sampai pejabat luar daerah serta selebritis yang sering muncul di acara infotainmen, akan Anda temukan tengah bersantap di warung nasi uduk pinggir jalan tersebut.
Pemandangan ini akan jamak Anda lihat selepas Maghrib sampai tengah malam, sesuai dengan jam buka Nasi Uduk Gondangdia, karena mereka-mereka memang pelanggan setianya. “Banyak pelanggan luar kota setibanya di bandara langsung menuju ke sini untuk makan terlebih dahulu sebelum mereka pergi ke penginapannya,” kata Wita, salah satu dari empat pemilik usaha keluarga (Jasmine, Jusriel Kamil dan Lisa) tersebut tanpa bisa menyembunyikan rasa bangganya.
Konon sejak pertama kali buka, belum pernah mengalami penurunan omset. Kalau digambarkan sebagai sebuah grafik maka lintasannya terus menanjak.
Padahal, menurutnya, pertama kali ketika membuka bisnis nasi uduk tersebut bermula dari iseng. Ceritanya, orang tua mereka memiliki lahan dua ruko di pinggir jalan tersebut. Satu ruko dimanfaatkan untuk bisnis money changer dan satunya digunakan untuk bisnis wartel. Halaman kedua ruko tersebut menganggur dan dimanfaatkan sebagai lahan parkir untuk pelanggan mie. “Mengapa lahan itu tidak dimanfaatkan untuk berjualan makanan,” rembug mereka berempat.
Mereka sepakat untuk membuka bisnis warung nasi uduk, karena keempat keluarga ini memang penggemar berat nasi uduk. “Ternyata pada hari pertama membuka warung nasi uduk, jualannya sudah ludes, demikian juga hari-hari berikutnya. Bisa dikatakan tidak ada hambatan yang berarti dalam mengelola bisnis ini,” imbuh Jasmine.
Sekalipun nasi uduk sudah berjubel di seantero Jakarta, namun Nasi Uduk Gondangdia mudah dikenali lantaran memiliki beberapa kekhasan. Nasinya rapat dibungkus daun pisang berbentuk kerucut.
Karena memiliki kekhasan inilah reputasi Nasi Uduk Gondangdia meroket dalam waktu yang singkat. Bahkan saat krisis moneter melanda, di saat usaha sejenis limbung, Nasi Uduk Gondangdia terus berjaya. Ruko yang semula diperuntukan wartel juga sudah disulap menjadi tempat berjualan nasi uduk. Sehingga bisnis Nasi Uduk Gondangdia merupakan kombinasi outdoor dan ruko.
Dengan success story tersebut tak pelak, banyak pihak yang “melamar” untuk menjadi mitra Nasi Uduk Gondangdia, bukan hanya wilayah Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain. Bahkan banyak orang Malaysia dan Singapura yang tertarik menjadi mitranya.
Lantaran pada saat itu, Nasi Uduk Gondangdia belum siap sistemnya maka “lamaran” dari berbagai pihak ini belum bisa diwujudkan. Namun saat ini, Nasi Uduk Gondangdia sudah siap diwaralabakan. “Semuanya sudah kami persiapkan matang. Dan untuk mencari franchisee-nya tentu tidak kesulitan karena sebelumnya sudah banyak yang melamar,” jelas Franchise Manager Nasi Uduk Gondangdia, Hendry E Ramdhan.
Selain menggarap calon franchisee yang sudah menyatakan tertarik, beberapa di antaranya dari Yogyakarta dan Bandung, Nasi Uduk Gondangdia membuka peluang kepada masyarakat luas.
“Semua keperluan franchisee seperti beras, bumbu, dan makanan olahan lainnya akan dipasok dari pusat sehingga kekhasan Nasi Uduk Gondangdia tetap terjaga di cabang mana pun,” tegas Wita.
Selain itu sajian warung tenda di daerah Jakarta Pusat. Kami pun kemudian meluncur ke daerah Pasar Baru dan bergerak menuju warung makan bernamakan Nasi Uduk Kota Intan. Di antara banyak deretan warung tenda yang menjual nasi uduk, hanya warung yang terletak persis di depan gereja GKI senantiasa terlihat ramai. Warung yang dikelola oleh A Weng dan istrinya ini dikenal juga dengan sebutan nasi uduk gereja ayam karena dulu warungnya persis di depan gereja yang punya oranamen ayam jago di pucuk atapnya.
Begitu menginjakkan kaki ke warung tenda ini, aroma nasi uduk dan ayam yang sedang digoreng pun tercium. Karenanya kami pun langsung menuju ke tempat lauk pauk yang berjejeran dekat si empunya warung, untuk memilih aneka lauk sebagai teman santapan nasi uduk. Lauk pauknya terbilang bervariasi, tak hanya tahu, tempe atau ayam saja seperti warung nasi uduk lainnya. Cumi, udang, ikan asin, dendeng, kerang, lele, mujair, tahu, tempe, ayam bakar, ayam goreng, sate telur ayam, empal, usus, paru dan babat juga tersedia lengkap dengan sambal terasi beserta lalapannya. Lauk pauk yang telah dipilih kemudian digoreng, baru disajikan. Sebagai tambahan lauk, kangkung tumis yang dimasak dengan api besar dalam sekejap bisa disajikan. Jilatan api, kepulan asap dari kukusan nasi uduk plus bau gurih lauk goreng membuat kami makin lapar.
Sekitar 10 menit kemudian, pesanan nasi uduk kami beserta lauk pauknya, tiba. Nasi uduk yang satu ini memang memiliki rasa yang khas. Bagaimana tidak? Cara menanak nasi uduk di warung berukuran kira-kira 4 x 6 meter ini menggunakan alat kukus yang terbuat dari tembaga yang diberi kukusan bambu dan ditutupi daun pisang. Cara menanak yang tradisional ini membuat nasi sangat pulen, gurih, tak berminyak dan aromanya sangat harum! Dua piring kecil berisi sambal kacang dan sambal terasi menjadi pelengkap nasi uduk. Sambal terasinya diulek langsung dan disajikan ‘fresh from the cobek’. Setelah diaduk dengan sambal kacang plus sedikit kecap manis rasanya jadi makin top. Apalagi diberi percikan air jeruk limau. Nasi plus lauk tinggal dicocol ke sambal sedap ini. Rasanya? Pedas, gurih, sedikit manis! Pokoknya kolaborasi rasa yang enak dan pas buat nasi yang pulen dan gurih.
Dengan lauk pauk yang semuanya terlihat begitu menggoda, pertama-tama saya ingin mencoba untuk menyantap ayam gorengnya terlebih dahulu. Menghadapi isu flu burung yang kian merambah, si pemilik warung menggunakan teknik mengungkep ayam selama 12 jam. “Sudah diungkep 12 jam kok Bu, jadi semua virus dan bukan hanya flu burung saja yang musnah”, jelas A Weng si empunya warung. Bumbu kuning dengan jejak kemiri, bawang putih dan bawang merah yang tajam, meresap sempurna hingga ke lipatan terkecil daging ayam. Saat dicocol dengan sambal yang sedap rasanya jadi makin sedap, pedas-pedas, gurih dan renyah menjadi satu! Puas dengan kelezatan ayam goreng, saya mulai meraih kerang rebus yang ada di depan mata. Kerang rebus yang ada di warung tenda ini memang luar biasa, tidak amis, tidak juga alot. Kesegaran kerang dengan rasa gurih dagingnya menggeliat-geliat di lidah saya, belum lagi kuah yang tersembunyi di dalam cangkang jika diseruput, slruupp…hmmm…gurih sekali!! Puas menyantap kerang, saya melirik rekan saya yang tengah asyik dengan empal gorengnya. Terlihat begitu menggiurkan, saya kemudian mencobanya. Empal dagingnya sangat renyah dengan potongan-potongan tipis yang digoreng kering. Rasanya? Selain tak alot, rasa gurih bawang putihnya menyerap hingga ke tiap sayatan daging, benar-benar renyah dan crispy.
Wuupss…ternyata masih ada tahu goreng dan kangkung cah tauco di depan mata, meskipun perut saya sudah tidak muat lagi tapi karena aromanya begitu menggoda, saya jadi tidak tahan untuk tidak mencuilnya. Tidak menyesal saya mencicipnya, teksturnya yang lembut menandakan tahu ini terbebas dari bahan formalin. Kangkung yang selalu ditumis dengan api besar, sehingga jilatan apinya menjadi pemandangan atraktif ini tersaji hijau lembut menggiurkan. Lagi-lagi rasa gurih bawang putih amat berasa. Selain tumis kangkung di warung ini masih tersedia sayuran lainnya seperti; sayur asem, soto babat atau soto ayam. Cukup lengkap bukan dan tak perlu khawatir dengan rasanya karena bisa dipastikan Anda tak akan menyesal untuk mencoba kesemuanya.
Untuk menyegarkan lidah dan tenggorokan, minuman dingin atau hangat bisa menjadi pilihan terbaik. Warung jus “Sinar Garut” yang ada di sebelah warung nasi uduk ini menyediakan minuman mulai dari es teh manis, teh manis hangat, es jeruk, jeruk hangat, hingga es teller, es kelapa, es kopyor, dan alpukat. Harga-harga di warung Nasi Uduk Kota Intan termasuk reasonable, buktinya seporsi nasi uduk hanya Rp 3500,00, seporsi kangkung tumis hanya Rp 8500,00, sepotong ayam goreng Rp 8500,00. Untuk lauk pauk yang lainnya juga termasuk murah, hanya bekisar Rp 3500,00 sampai Rp 8500,00 per potong. Nah, kalau ingin mencicipi nasi uduk ala kota, sekali-sekali singgah ke warung ini, A Weng dan istrinya yang ramah akan siap menanti Anda. Sebaiknya perut dalam keadaan lapar berat dan kosong agar puas bersantap.
(RAS/ berbagai sumber)
artikel ini dibaca 649 kali
versi cetak
beritahu teman
Bergabung di forum karir-up dan dapatkan pembicaraan hangat tentang dunia kerja

tidak ada komentar
komentar anda disini