Balita TKW, Alami Gizi Buruk
INDRAMAYU, KARIR-UP.COM - Kasus gizi buruk yang menimpa anak berusia di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Indramayu, lebih banyak terjadi pada kalangan keluarga tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri. Sebab, balita yang ditinggalkan ibunya menjadi TKW, kebanyakan tidak terurus termasuk asupan makanan dan gizinya.
Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Diah R. Adriana mengatakan selain ditinggalkan ibunya menjadi TKW, penyebab lain adalah faktor sosial ekonomi keluarga.
Contoh kasus Bayu Pramuja (13 bulan), pasien gizi buruk warga Desa Sendang, Kecamatan Karangampel yang menjalani perawatan di Bangsal Anak Kelas III RSUD Indramayu. “Karena ibunya berangkat menjadi TKW, pengasuhan Bayu diserahkan kepada neneknya dan pemberian ASI terhadap Bayu terhenti total,” Kata Diah, saat melakukan peninjauan terhadap sejumlah pasien balita penderita gizi buruk di RSUD Indramayu, Rabu (24/6)
Sementara itu, karena keterbatasan ekonomi, sang nenek tidak mampu membelikan susu sebagai pengganti ASI. “Dari pengakuan neneknya, Bayu kerap hanya diberi air dicampur gula batu,” ungkap Diah.
Hal itu menyebabkan kondisi kesehatan anak dari pasangan Maman Rudin (29) dan Ratna (21), menurun drastis. Bayu lahir dalam kondisi normal dengan berat badan mencapai 3,2 kg. Namun, setelah ditinggal ibunya menjadi TKW, kondisinya memburuk dan pada usia 13 bulan hanya memiliki berat badan 7 kg.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, menurut Diah, sepanjang tahun 2008 jumlah balita penderita gizi buruk di Kabupaten Indramayu mencapai 956 anak. Sementara tahun 2009, hingga pertengahan Juni tercatat mencapai 128 anak.
“Namun, tidak semuanya dalam kondisi parah, seperti sejumlah pasien yang akhirnya dirujuk puskesmas untuk dibawa ke rumah sakit,” ujar Diah.
Menurut Diah, selain harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit yang diderita para balita penderita gizi buruk, mereka juga harus mendapatkan program pemberian makanan tambahan selama sembilan puluh hari.
Oleh karena itu, Diah mengharapkan agar para orang tua rajin membawa balita mereka untuk pemeriksaan kesehatan di setiap kegiatan posyandu. Dengan demikian, ungkap Diah, dapat diketahui sejak dini jika ada indikasi terjadi kekurangan gizi.
Menurut pemantauan “PR”, hingga Rabu (24/6) pasien balita gizi buruk yang dirawat di RSUD Indramayu tinggal dua anak, yakni Bayu Pramuja dan Nurnaningsih (7 bulan), pasien asal Desa/Kecamatan Bangodua.
Kondisi keduanya telah relatif membaik, karena Bayu Pramuja telah mengalami penambahan berat badan hingga 4 ons setelah menjalani perawatan selama 3 hari.
Sementara Nurnaningsih, setelah menjalani perawatan dan menerima program pemberian makanan tambahan selama dua hari, mengalami kenaikan berat badan hingga 3 ons.
“Sekarang Nurnaningsih juga sudah jarang nangis dan terlihat lebih sehat,” kata Tukiyem, salah seorang keluarga Nurnaningsih.
(rahmat saepulloh/ pr)
No Comments »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI




